Jumat, 07 Juni 2013

macam mati pada kalangan sufi



Macam mati pada kalangan sufi
Untuk menempuh musyahadah, melalui pintu mati ada 4 tingkatan :
1.     Mati tabi’i
Menurut ahli tariqat mati ini terjadi dengan karunia Allah pada saat dzikir qalbi di dalam dzikir lathaif. Dan ini merupakan pintu musyahadah pertama dengan Allah.
Pada hal semacam ini akal fikiran mulai tidak berjalan lagi, melainkan terjadi dengan ilham yang tiba tiba nur ilahi terbit dalam hati yang hadir dengan Allah. Lidah bergerak sendiri menyebut Allah, Allah. Mulai masuk pada fana Af’al dan Tajalli fil Af’al, dimana gerak dan diam hanya pada Allah.

2.     Mati ma’nawi
Menurut ahli tariqat mati ini terjadi dengan karunia Allah pada saat melakukan dzikir lathifatur ruh dalam dzikir lathaif, ketika itu penglihatan secara lahir menjadi hilang lenyap dan mata batin menguasai penglihatan.dzikir Allah pada tigkat ini semakin meresap tembus pada diri dimana dzikir sudah terasa amat panasnya di sekujur tubuh dan diserap bulu roma badan. Perasaan keinsanan tercengang, bimbang, semua persendian gemetar, bisa juga terus pingsan. Telah memasuki fana kedua yakni fana fisshifat sifat kebaharuan lenyap tinggal sifat tuhan yang sempurna dan azali.” Tiada hidup selain Allah”.

3.     Mati suri
Terjadi saat seorang salik melakukan dzikir lathifatus sirri dalam dzikir lathaif. Ketika itu sifat keinsanan lenyap ditelan oleh alam ghoib alam malakut yang penuh dengan nur cahaya. Yang baqa adalah Nurullah, nur shifatullah, nur asmaullah, nur dzatullah dan nur ala nurin.



4.     Mati hissi
Menurut ahli tariqat mati ini terjadi dengan karunia Allah pada saat seorang salik melakukan dzikir lathaifathul hafi dalam dzikir lathaif, seorang salik telah mencapai ma’rifat dengan maqam tertinggi, lenyaplah sifat keinsanan yang baru yang tinggal hanyalah sifat sifat tuhan yang qadim azali. Menanjaklah batin keinsanan lebur kedalam kebaqa’an Allah yang Qadim bersatu antara ‘Abid dan ma’bud. Seorang salik telah mengalami keadaan yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar telinga, tidak pernah melintas pada hati manusia dan tidak mungkin dishifati, tetapi akan mengerti siapa saja yang telah merasainya.

Apabila seseorang telah mendapatkan karunia Allah dengan musyahadah, maka dengan sendirinya akan lenyaplah segala hijab dari sifat sifat basyariyah, nampaknya Allah atau tajalli.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar